FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELIMPAHAN ZOOPLANKTON

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelimpahan Zooplankton
Kelimpahan zooplankton pada suatu perairan dipengaruhi oleh faktor-faktor abiotik yaitu : suhu,  kecerahan, kecepatan arus, salinitas,pH, DO (Kennish, 1990; Sumich, 1992; Romimohtarto dan Juwana, 1999). Sedangkan faktor biotik yang dapat mempengaruhi distribusi zooplankton adalah bahan nutrien dan ketersedian makanan (Kennish, 1990; Sumich, 1992).
 
2.2.3.1.Suhu
Suhu perairan mempengaruhi keberadaan zooplankton secara fisiologis dan ekologis (Kennish, 1990). Secara fisiologis perbedaan suhu perairan sangat berpengaruh terhadap fekunditas, lama hidup, dan ukuran dewasa zooplankton. Secara ekologis perubahan suhu menyebabkan perbedaan komposisi dan kelimpahan zooplankton.
Suhu mempengaruhi daur hidup organisme dan merupakan faktor pembatas penyebaran suatu jenis dalam hal ini mempertahankan kelangsungan hidup, reproduksi, perkembangan dan kompetisi (Krebs, 1985). Sedangakan menurut Dawes  (1981) suhu yang baik bagi biota laut untuk hidup normal adalah            20 -35 ºC dengan fluktuasi tidak lebih dari 5 ºC. Menurut Ray dan Rao (1964) dalam Dawson (1979) suhu yang baik untuk kelimpahan zooplankton di daerah tropika secara umum berkisar antara 24˚C – 30˚C.
 
2.2.3.2.Kecerahan
Definisi dari kecerahan adalah jarak yang bisa ditembus cahaya dalam kolom air dan kedalaman merupakan fungsi dari kecerahan, sedangkan kekeruhan air adalah suatu ukuran bias cahaya di dalam air yang menunjukkan derajat kegelapan di dalam suatu perairan yang disebabkan adanya partikel- partikel yang hidup maupun yang mati yang dapat mengurangi transmisi cahaya (APHA, 1995). Semakin besar nilai kecerahan akan meningkatkan hasil produktifitas primer dalam bentuk biomassa yang merupakan pendukung utama kehidupan komunitas pada lingkungan tertentu (Tait, 1981).
 
2.2.3.3.Arus
Arus merupakan faktor utama yang membatasi penyebaran biota dalam perairan (Odum, 1971). Arus laut dapat membawa larva planktonik jauh dari habitat induknya menuju ke tempat mereka menetap dan berkembang (Jackson, 1986). Pada daerah mangrove, arus yang disebabkan pasang surut mempunyai pengaruh nyata terhadap distribusi plankton. Arus mempunyai arti penting dalam menentukam pergerakan dan distribusi plankton pada suatu perairan.  Arus merupakan sarana transportasi baku untuk makanan maupun oksigen bagi suatu organisme air (Hawkes, 1978). Pergerakan zooplankton terjadi secara vertikal pada beberapa lapisan perairan, tetapi kekuatan berenangnya sangat kecil bila dibandingkan dengan kekuatan arus tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986; Nybakken, 1992).
 
2.2.3.4.Salinitas
Zooplankton memiliki kepekaan yang tinggi terhadap tingkat salinitas pada perairan di ekosistem mangrove. Tingkat toleransi pada tiap-tiap zooplankton sangat bervariasi (Kennish, 1990). Salinitas yang ekstrim dapat menghambat  pertumbuhan dan meningkatkan kematian pada zooplankton (Odum, 1993). Menurut Sachlan (1982), pada salinitas 0 – 10 ppt hidup plankton air tawar, pada salinitas 10 – 20 ppt hidup plankton air tawar dan laut, sedangkan pada salinitas yang lebih besar dari 20 ppt hidup plankton air laut.
 
 
 
2.2.3.5.Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan organisme perairan, sehingga sering dipakai untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan. Menurut Raymont (1963), pH dapat mempengaruhi plankton dalam proses perubahan dalam reaksi fisiologis dari berbagai jaringan maupun pada reaksi enzim. Tait (1981) menyatakan bahwa kisaran pH optimum bagi pertumbuhan plankton adalah 5,6-9,4.
 
2.2.3.6.Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut dalah gas untuk respirasi yang sering menjadi faktor pembatas dalam lingkungan perairan. Ditinjau dari segi ekosistem, kadar oksigen terlarut menentukan kecepatan metabolisme dan respirasi serta sangat penting bagi kelangsungan dan pertumbuhan organisme air. Kandungan oksigen terlarut akan berkurang dengan naiknya suhu dan salinitas (Sachlan, 1982; Nybakken, 1988). Menurut Raymont (1963), konsentrasi dari oksigen terlarut paling rendah yang dibutuhkan oleh organisme perairan adalah 1 ppm.
 
2.2.3.7.Bahan Nutrien
Komponen nutrien utama yang sangat diperlukan dalam menentukan tingkat kesuburan perairan adalah nitrat dan fosfat. Nitrat (NO3) adalah komponen nitrogen yang paling melimpah keberadaannya di laut. Nitrogen merupakan bagian esensial dari seluruh kehidupan karena berfungsi sebagai pembentuk protein dalam jaringan sehingga aktifitas yang utama seperti fotosintesis dan respirasi tidak dapat berlangsung tanpa tersedianya nitrogen yang cukup (Ranoemihardjo dan Martosoedarmo, 1988).
Proses utama dalam metabolism nitrat adalah penyerapan pada proses fotosintesa fitoplankton, regenerasi nitrat melalui proses dekomposisi oksida bahan-bahan organik di bawah permukaan kolom air di permukaan sedimen, juga denitrifikasi yang terjadi dalam kondisi anaerob (Tait, 1981; Millero dan Sohn, 1992).
          Menurut Vollenweinder ( 1968) dalam Gunawati (1984) penentuan tingkat kesuburan perairan berdasarkan konsentrasi nitrat sebagai berikut :
< 0,226                  : kesuburan kurang
0,226 – 1,129        : kesuburan sedang
1,130 – 11,29        : kesuburan tinggi
Zooplankton memperoleh nitrogen organik dan anorganik dari fitoplankton dan mikroorganisme, kemudian mengekresikan nitrogen organik dalam feses yang akan mengendap atau menjadi terlarut. Aktivitas mikroorganisme bentik dapat merubah nitrogen organik menjadi anorganik di dalam sedimen. Bakteri juga berperan dalam siklus nitrogen yaitu merubah nitrogen organik terlarut menjadi anorganik. (Tait, 1981; Meadows dan Campbell, 1993).
Nutien tidak secara langsung dibutuhkan zooplankton. Fitoplankton menggunakan nitrat untuk perkembangannya. Perkembangan fitoplankton akan mempengaruhi pula perkembangan zooplankton, hal ini dikarenakan fitoplankton adalah makanan utama bagi zooplankton (Wickstead, 1965).
Fosfat merupakan faktor pembatas bagi produktifitas suatu perairan. Perairan dengan kandungan fosfat yang tinggi melebihi kebutuhan normal organisme nabati yang ada di perairan tersebut, maka akan menyebabkan terjadinya eutofikasi ( Nybakken, 1992). Secara alamiah, fosfor tidak terdapat dalam bentuk bebas namun dalam bentuk fosfat. Dalam sistem perairan, fosfat berada dalam bentuk fosfat terlarut atau fosfat organik yang terkandung dalam biota plankton (Tait, 1981; Michael, 1994).
          Joshimura (1976) dalam Wardoyo (1982) menggolongkan tingkat kesuburan perairan berdasarkan konsentrasi fosfat terlarut sebagai berikut :
< 0,02                    : rendah
0,021 – 0,05          : cukup
0,051 – 0,10          : baik
 
2.2.3.8.Ketersediaan Makanan
Distribusi zooplankton melimpah di perairan berkaitan erat dengan ketersediaan makanan atau fitoplankton sebagai makanannya ( Meadows dan Campbell, 1993). Wijayanti et al. (1995) menambahkan bahwa komposisi dari komunitas zooplankton bervariasi dari tahun ke tahun dikarenakan perubahan makanan dan lingkungan tempat hidupnya. Jenis fitoplankton yang dimakan zooplankton antara lain Chaeteceros, Skeletonema, Fraggilaria, Oscillatoria, Ceratium (Soedibjo, 2006).Image
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s